Warga Mengeluh Rebutan Nomor Antrean Sembako KJP, Warga DKI Mengeluh: “Daftar Online Saja Susah!”
Gunung Sitoli Warga Mengeluh untuk mengakses sembako melalui program KJP terus mencuat. Warga harus berebut kuota antrean yang terbatas lewat sistem online. Tak jarang, mereka gagal meski sudah mencoba berkali-kali.
“Saya coba pakai dua HP, bareng suami. Untung salah satunya dapat,” ujar Mutia (40), warga Jakarta Selatan. Hal serupa diungkapkan Yeni (38), “Jaringan lemot, sistem error, akhirnya enggak dapat antrean hari ini.”
Masalah koneksi dan kecepatan akses sistem Pasarjaya menjadi tantangan tersendiri bagi ribuan keluarga penerima manfaat. Beberapa warga bahkan meminta bantuan keluarga agar bisa masuk ke antrean digital. Situasi ini menunjukkan perlunya perbaikan sistem registrasi agar lebih ramah pengguna dan merata aksesnya.
2. Tak Semua Bisa Daring: Dilema Sembako KJP di Era Digital
Di tengah gencarnya digitalisasi, sejumlah warga Jakarta justru merasa tertinggal. Untuk mengakses sembako bersubsidi lewat KJP, mereka diwajibkan mendaftar online. Namun prosesnya tidak semudah yang dibayangkan.
Jamilah (35), warga Setiabudi, mengaku menyerah mencoba sendiri dan akhirnya minta bantuan saudaranya. “Kalau daftar sendiri, saya bingung. Jadi saya minta tolong aja,” katanya.
Sementara itu, warga lain seperti Wijaya (41) bahkan rela mengambil sembako di lokasi yang lebih jauh demi mendapat kuota. “Di tempat dekat rumah sudah pasti penuh. Jadi saya ambil yang jauh, asal bisa dapat,” ujarnya.
Program digital memang membantu, tapi masih menyisakan kesenjangan akses yang nyata bagi sebagian masyarakat.

Baca Juga: Diduga Setwan Pandeglang Palsukan Stempel dan Invoice Hotel
3. “Antre Daring, Tapi Rasanya Lomba Klik!” – Cerita Warga Soal KJP Sembako
Mini Distribution Center (Mini DC) Setiabudi hari ini mulai ramai menjelang siang. Alasannya sederhana: beberapa komoditas seperti telur dan ayam baru tersedia setelah pukul 10.00 WIB.
Namun yang lebih membuat stres warga adalah perjuangan mendapatkan nomor antrean. “Kayak main cepat-cepat-an. Kalau lambat dikit, pasti gagal,” kata Aditya (32).
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius: apakah sistem distribusi berbasis online benar-benar inklusif? Dalam praktiknya, banyak warga merasa sistem ini tidak berpihak pada mereka yang kurang melek digital atau tidak memiliki akses internet stabil.
4. Warga Menyerbu Mini DC Setelah Gagal Daring: Sistem KJP Perlu Evaluasi?
Tak semua warga bisa mendapatkan sembako KJP lewat sistem antrean online. Seperti dialami Yeni (38) yang akhirnya mencoba jalur On The Spot (OTS). “Saya belum pernah OTS. Kali ini mau coba karena online terus gagal.”
Banyak warga juga terpaksa mengandalkan lokasi distribusi alternatif. “Saya pilih Mini DC Setiabudi karena kuota di Mampang cepat habis,” ujar Wijaya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem antrean berbasis internet belum sepenuhnya berhasil menjangkau semua penerima manfaat secara adil dan efisien.
5. Warga Mengeluh: Warga Andalkan Grup WhatsApp dan Bantuan Keluarga
Era digital membuat banyak layanan publik berpindah ke sistem daring. Termasuk akses sembako melalui Kartu Jakarta Pintar. Tapi di balik kemajuan itu, muncul kesenjangan akses digital yang nyata.
Di berbagai grup WhatsApp penerima KJP, banyak warga saling bertanya cara mendaftar atau menunggu update komoditas yang tersedia. “Saya tiap hari nunggu update grup. Kalau telur belum datang, saya enggak berangkat dulu,” ujar seorang warga.
Ada pula yang sampai bergantian pakai perangkat dengan keluarganya demi mendapatkan antrean. “Dari pagi, saya sama suami klik-klik terus, pakai dua HP. Baru satu yang masuk,” tutur Mutia.






