Lebaran Lebih Awal Perayaan Hari Raya Idul Fitri tahun ini diwarnai dengan perbedaan waktu pelaksanaan di sejumlah daerah.
Gunung Sitoli News – Lebaran Lebih Awal Ribuan warga Muhammadiyah di berbagai wilayah memilih melaksanakan Salat Id lebih awal, termasuk di Jambi dan Solo. Sejak pagi hari, lapangan dan masjid di kedua kota tersebut telah dipenuhi jamaah yang datang untuk menunaikan ibadah salat Id.
Di Jambi, suasana khidmat terasa sejak matahari belum sepenuhnya terbit. Warga berbondong-bondong menuju lokasi salat dengan mengenakan pakaian terbaik mereka. Takbir menggema, menambah suasana religius yang penuh haru. Banyak keluarga datang bersama, menjadikan momen ini sebagai ajang mempererat silaturahmi setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.
Hal serupa juga terlihat di Solo. Kota yang dikenal sebagai salah satu basis kuat Muhammadiyah ini dipadati jamaah sejak dini hari.
Sejumlah titik pelaksanaan salat Id, baik di lapangan terbuka maupun halaman masjid, dipenuhi ribuan orang. Petugas dari berbagai unsur turut membantu mengatur jalannya ibadah agar berlangsung tertib dan lancar.
Baca Juga: Resmi Arab Saudi Rayakan Idul Fitri 1447 H pada 20 Maret
Perbedaan waktu pelaksanaan Idul Fitri antara Muhammadiyah dan pemerintah bukanlah hal baru. Muhammadiyah menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi dalam menentukan awal bulan Hijriah, sementara pemerintah melalui sidang isbat mengombinasikan metode hisab dan rukyat. Perbedaan metode ini terkadang menghasilkan penetapan hari raya yang tidak sama.
Meski demikian, suasana perayaan tetap berlangsung damai dan penuh toleransi.
Warga yang merayakan lebih awal tetap menghormati mereka yang menjalankan ibadah puasa hingga hari berikutnya. Di sisi lain, masyarakat umum juga menunjukkan sikap saling menghargai terhadap perbedaan tersebut.
Setelah pelaksanaan salat Id, tradisi saling bermaafan langsung dilakukan. Warga saling bersalaman, mengunjungi keluarga, serta berbagi kebahagiaan dengan tetangga sekitar. Beberapa di antaranya juga langsung menggelar acara makan bersama sebagai bagian dari tradisi Lebaran.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perbedaan dalam penentuan hari raya tidak mengurangi makna kebersamaan umat. Justru, momen ini menjadi pengingat pentingnya toleransi dan persatuan dalam keberagaman.






