Bangun Ekonomi Hijau & Hilirisasi Berbasis Teknologi: PLN dan Kompas100 CEO Forum Bahas Strategi Nasional
Gunung Sitoli News – Bangun Ekonomi Hijau Kolaborasi antara sektor energi, teknologi, dan industri menjadi sorotan utama dalam diskusi strategis yang digelar pada rangkaian 16th Kompas100 CEO Forum yang “powered by” PLN. Forum ini menekankan dua pilar strategis: ekonomi hijau dan hilirisasi berbasis teknologi, sebagai dua motor utama pencapaian visi Indonesia ke depan.
Menurut publikasi dalam forum, seperti artikel “Apa Untungnya Ekonomi Hijau?” yang mengangkat peran PLN, transformasi energi bukan hanya tentang pengurangan emisi, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan meningkatkan nilai tambah nasional.
1. Ekonomi Hijau sebagai Peluang Strategis
Dalam forum tersebut disebutkan bahwa meski transisi dari energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT) menghadapi tantangan besar—termasuk dari sisi teknologi, pembiayaan, dan kesiapan infrastruktur—namun potensi dampak ekonomi dan sosialnya sangat besar
Seperti yang disampaikan oleh Direktur Keuangan PLN, Sinthya Roesly, proses memensiunkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) perlu analisis menyeluruh termasuk dari sisi pembiayaan dan dampak sosial bagi pekerja/komunitas terdampak.
2. Hilirisasi Berbasis Teknologi: Nilai Tambah & Daya Saing
Forum juga menegaskan bahwa hilirisasi industri, yakni mengolah bahan mentah menjadi produk dengan nilai tambah, harus didukung teknologi agar Indonesia tidak hanya menjadi “pengekspor bahan mentah”. Menurut portal forum, salah satu pilar utama adalah “Hilirisasi, Infrastruktur & Teknologi”.
Di samping itu, diskusi “Target Pertumbuhan 8 Persen” yang dilangsungkan dalam forum menyebut bahwa sinergi antara infrastruktur, teknologi inovatif, dan kebijakan industri merupakan kunci untuk mencapai target tersebut.
Baca Juga: Trump Robohkan Sayap Timur Gedung Putih, Proyek Rp 5 Triliun Dimulai
3. Peran PLN sebagai Motor Transformasi
PLN tampil bukan sekadar sebagai penyedia listrik, tetapi sebagai “integrator” dalam ekosistem energi hijau dan hilirisasi. Dalam rapat CEO Connect yang digelar 16 Oktober 2025, Direktur Manajemen Proyek dan EBT PLN, Suroso Isnandar, menyebut bahwa PLN akan memperluas pembangunan pembangkit surya di kawasan industri, smart grid, dan penyimpanan energi berbasis baterai.
PLN juga mendorong industri‐pendukung dan teknologi untuk menciptakan nilai tambah domestik:
Smart grid & sistem penyimpanan energi → mendukung efisiensi dan stabilitas jaringan.
Kolaborasi riset teknologi → agar Indonesia menjadi pencipta, bukan hanya pengguna teknologi
4. Tantangan yang Masih Harus Dihadapi
Meskipun semangatnya tinggi, forum juga mencatat bahwa masih ada beberapa hambatan:
Peta jalan (roadmap) ekonomi hijau dan hilirisasi yang belum sepenuhnya jelas dan konsisten di semua tingkatan pemerintahan.
Pembiayaan dan teknologi yang diperlukan untuk transformasi masih besar. Misalnya, memensiunkan PLTU di Pulau Jawa saja disebut memerlukan hingga USD 20 miliar.
Kebutuhan SDM dan inovasi lokal agar teknologi bisa dikembangkan dan bukan hanya diimpor.
5. Bangun Ekonomi Hijau Rekomendasi dan Arah Langkah ke Depan
Berdasarkan paparan dalam forum, beberapa langkah strategis yang diusulkan antara lain:
Mendorong kolaborasi publik‐swasta dalam proyek energi terbarukan dan industri hilir teknologi.
Menetapkan roadmap nasional yang terintegrasi untuk ekonomi hijau dan hilirisasi agar investor memiliki kejelasan.
Memanfaatkan teknologi digital, riset dan inovasi untuk mempercepat proses hilirisasi dan memperkuat rantai nilai domestik.
Mengembangkan proyek regional yang memadukan energi hijau, industri lokal, dan penciptaan lapangan kerja sebagai model ekonomi keberlanjutan.
Memastikan bahwa transformasi ini tidak hanya berfokus kepada teknologi dan industri besar, tetapi juga inklusif bagi komunitas lokal dan UMKM.
Kesimpulan
Kolaborasi antara PLN dan Kompas100 CEO Forum memperlihatkan bahwa Indonesia sedang bergerak menuju model ekonomi yang lebih hijau, berbasis teknologi, dan dengan nilai tambah yang lebih besar. Dengan hilirisasi sebagai salah satu kunci, serta dukungan kuat dari pemangku kepentingan termasuk sektor energi dan industri teknologi, langkah ini dapat memperkuat daya saing nasional sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan. Namun, kejelasan kebijakan, kesiapan teknologi dan pembiayaan tetap menjadi tantangan yang harus diatasi agar visi ini benar‐benar terwujud.






