Jalan Nasional di Agara Masih Berdebu, Korban Banjir Bandang Ketambe Mulai Terserang ISPA dan Diare
Gunung Sitoli News – Jalan Nasional Banjir bandang yang menerjang Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara (Agara), memang telah surut. Namun, dampaknya belum sepenuhnya berakhir. Hingga kini, jalan nasional yang melintasi wilayah terdampak masih dipenuhi debu tebal, sisa material banjir yang mengering. Kondisi ini memicu masalah kesehatan serius, terutama bagi warga korban bencana yang mulai terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare.
Situasi ini menandai fase baru krisis pascabencana: ancaman kesehatan lingkungan.
Debu di Jalan Nasional Jadi Sumber Penyakit
Material pasir, lumpur halus, dan tanah yang mengering di badan jalan berubah menjadi debu pekat setiap kali kendaraan melintas. Jalan nasional yang seharusnya menjadi urat nadi transportasi kini justru menjadi sumber pencemaran udara.
Debu beterbangan masuk ke permukiman warga, tempat pengungsian, hingga fasilitas umum. Anak-anak, lansia, dan ibu hamil menjadi kelompok paling rentan. Banyak warga mengeluhkan batuk berkepanjangan, sesak napas, dan iritasi mata.
“Setiap kendaraan lewat, debunya masuk ke rumah. Kami susah bernapas,” keluh seorang warga Ketambe.
Baca Juga: PLN Resmi Lapor ke Polisi Soal Kabel Gardu Trafo Dicuri
Kasus ISPA dan Diare Meningkat
Tenaga kesehatan setempat mencatat mulai meningkatnya kasus ISPA dan diare di wilayah terdampak. ISPA dipicu oleh paparan debu dalam waktu lama, sementara diare diduga berkaitan dengan air bersih yang tercemar serta sanitasi yang belum pulih sepenuhnya.
Banjir bandang merusak jaringan air bersih dan mencemari sumur warga. Meski air sudah kembali digunakan, kualitasnya belum sepenuhnya aman, terutama bagi anak-anak.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pemulihan kesehatan pascabencana tidak kalah penting dari perbaikan infrastruktur.
Korban Banjir Hadapi Beban Ganda
Warga Ketambe kini menghadapi beban ganda. Selain harus membersihkan rumah dan memulihkan ekonomi keluarga, mereka juga berjuang melawan penyakit yang muncul akibat lingkungan yang belum sehat.
Biaya pengobatan menjadi persoalan tersendiri. Tidak semua warga mampu berobat secara rutin, sementara aktivitas ekonomi belum sepenuhnya pulih.
Bagi korban banjir, sakit di tengah keterbatasan adalah cobaan tambahan yang sangat berat.
Jalan Nasional Belum Disiram Optimal
Salah satu sorotan utama adalah lambatnya penanganan debu di jalan nasional. Hingga kini, penyiraman jalan belum dilakukan secara rutin dan menyeluruh. Akibatnya, setiap hari warga harus menghirup debu dalam jumlah besar.
Masyarakat berharap adanya:
Penyiraman jalan secara berkala
Pembersihan sisa material banjir
Pengangkutan lumpur dan pasir
Penanganan darurat untuk mengurangi debu
Penanganan debu dianggap mendesak karena dampaknya langsung terhadap kesehatan publik.
Dampak Transportasi dan Aktivitas Publik
Selain kesehatan, debu juga mengganggu aktivitas transportasi. Jarak pandang pengendara berkurang, meningkatkan risiko kecelakaan. Pengguna jalan harus melambat, menyebabkan kemacetan dan keterlambatan distribusi barang.
Bagi daerah yang bergantung pada jalur nasional, kondisi ini memperlambat pemulihan ekonomi secara keseluruhan.
Tanggapan Pemerintah Daerah
Pemerintah daerah Aceh Tenggara menyatakan telah melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk menangani dampak lanjutan banjir bandang. Fokus tidak hanya pada perbaikan fisik, tetapi juga pada aspek kesehatan masyarakat.
Pentingnya Pendekatan Kesehatan Lingkungan
Kasus di Ketambe menunjukkan bahwa pascabencana tidak boleh hanya diukur dari surutnya air. Lingkungan yang tidak sehat bisa memicu krisis kesehatan baru jika tidak ditangani dengan cepat.
Pendekatan kesehatan lingkungan perlu mencakup:
Pengendalian debu
Penyediaan air bersih
Perbaikan sanitasi
Edukasi kesehatan bagi warga
Tanpa langkah ini, korban bencana akan terus menderita meski fase darurat telah berlalu.
Anak-Anak dan Lansia Paling Rentan
Anak-anak menjadi kelompok paling terdampak oleh kondisi ini. Sistem pernapasan mereka lebih sensitif terhadap debu, sementara daya tahan tubuh lansia juga cenderung menurun pascabencana.
Sekolah-sekolah di sekitar lokasi terdampak turut merasakan dampak, dengan banyak siswa mengeluhkan batuk dan flu. Hal ini berpotensi mengganggu proses belajar mengajar.
Warga Desak Penanganan Cepat dan Terpadu
Masyarakat Ketambe berharap pemerintah pusat dan daerah turun tangan lebih serius.






