Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Lautan Sampah di Kolong Tol Tanjung Priok, Warga Menjerit Tersiksa Bau Busuk

Skintific

Lautan Sampah di Kolong Tol Kolong Tol Plumpang–Pluit, Papanggo, Tanjung Priok: Warga Menjerit Tersiksa Bau Busuk

Kondisi di Lapangan

Gunung Sitoli News – Lautan Sampah di Kolong Tumpukan sampah yang menumpuk mencapai ketinggian hingga ±3 meter di lahan seluas kurang lebih 500 meter di kolong tol tersebut.

Sampah yang terlihat beragam: sisa makanan, plastik bekas minuman dan makanan, kardus, popok anak, hingga pecahan kaca dan kayu. Beberapa bagian sudah melebur dengan tanah dan menimbulkan lapisan gelap.

Skintific

Aroma busuk menyengat menjadi bagian sehari-hari warga. Ada pula kambing yang berkeliaran dan bahkan terlihat memakan plastik di antara tumpukan sampah.

Banyak warga dari wilayah selain Papanggo, seperti Warakas, yang datang membawa gerobak berisi sampah untuk dibuang di kolong tol karena “gratis” atau tidak ada pengawasan.

Dampak Terhadap Warga

Warga bernama Dede Alamsyah (65) mengaku pernah mengidap TBC setelah bertahun-tahun tinggal hanya sekitar 100 meter dari kolong tol yang dipenuhi sampah dan asap pembakaran. “Saya enggak pernah merokok, tapi kena TBC juga. Dari bau sampah, asap pembakaran…” ujar dia dalam wawancara.

Kesehatan dan kenyamanan warga sangat terganggu—mulai dari gangguan pernapasan, bau yang masuk ke rumah, hingga kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur karena kolong tol dimanfaatkan pembuangan sampah liar.Sampah di Kolong Tol Pelabuhan Berbau Menyengat dan Bikin Anak-anak Sesak  Napas

Baca Juga: Nasib Pelda Christian yang Kehilangan Anaknya Prada Lucky Kini Diproses Dugaan Langgar Etik Militer

Akar Masalah

Beberapa faktor yang memicu kondisi ini ialah:

Minimnya pengawasan dan penegakan terhadap pembuangan sampah liar di lokasi tersebut.

Kurangnya fasilitas resmi pembuangan dan sistem pengangkutan yang memadai bagi warga di sekitar kawasan tersebut.

Kebiasaan pembakaran sampah oleh warga sebagai upaya darurat mengurangi volume sampah, yang kemudian menambah risiko kebakaran dan polusi udara.

Lautan Sampah di Kolong Tindakan dan Harapan Warga

Pasca insiden kebakaran pada Rabu (16/4/2025) di kolong tol tersebut, pihak ‎Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta bersama PPSU (Penanganan Prasarana dan Sarana Umum) Kelurahan mulai melakukan pembersihan secara bertahap menggunakan alat berat seperti beko.

Pemerintah setempat melalui wakil wali kota menyampaikan larangan membakar sampah sembarangan dan memprioritaskan kolaborasi antar instansi untuk pembersihan dan pemanfaatan kawasan kolong tol secara lebih baik.

Lautan Sampah di Kolong Tantangan dan Langkah Selanjutnya

Meskipun sudah ada pembersihan yang berlangsung, tantangan besar masih tetap ada:

Konsistensi pengangkutan dan pengelolaan sampah agar tumpukan tidak muncul kembali.

Penguatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap dumping ilegal di kawasan publik.

Edukasi dan pemberdayaan masyarakat agar tidak lagi membuang sampah sembarangan, mendukung infrastruktur bank sampah atau sistem pemilahan.

Pemanfaatan kolong tol sebagai ruang publik yang layak—ruang terbuka hijau, area olahraga, atau sarana komunitas—yang bisa memberi manfaat positif bagi lingkungan dan warga.

Kesimpulan

Warga-warga yang tiap hari menahan bau busuk, asap pembakaran, dan risiko kesehatan berharap bahwa janji perubahan bukan hanya bersifat temporer, melainkan jadi langkah nyata untuk menciptakan lingkungan yang lebih layak huni.

Skintific