1. Bamus Betawi Menyuarakan Ketenangan: Ajakan Persatuan dan Anti-Provokasi yang Kuat
Gunung Sitoli News – Bamus Betawi Di tengah maraknya isu premanisme dan tawuran di Jakarta Timur, terutama kawasan Kanal Banjir Timur (KBT), Ketua Umum Bamus Betawi, Riano P Ahmad, memberikan nada berbeda: menolak reaksi emosional, mengajak untuk lebih kritis dan rasional.
Bukan mengabaikan aspirasi masyarakat, tetapi menegaskan bahwa provokasi justru memperparah konflik.
Ia menekankan bahwa menjaga ketertiban adalah tanggung jawab semua pihak—pemerintah, aparat, ormas, hingga warga.
“Kami berharap warga Betawi tak mudah terprovokasi dan tetap menjadi teladan dalam menjaga ketertiban di lingkungan masing‑masing”—kata Riano tegas.
2. Antitesis Asap dan Emosi: Dari ‘Tawuran’ Menuju ‘Keteladanan’
Riano menyoroti bahwa kegiatan keagamaan dan sosial sebenarnya efektif meredam potensi konflik—asal dilakukan secara konsisten.
Ia mengajak pemerintah dan aparat untuk memperkuat upaya deteksi dini, bukan sekadar respons pascabentrok, demi meminimalisir eskalasi kekerasan.
Baca Juga:Pernyataan Lengkap Kapolri atas Insiden Rantis Brimob Lindas Ojol hingga Tewas
3. Warga Betawi: Momentum untuk Menjadi Garda Perdamaian
Diferensiasi Pendekatan – Perspektif yang Berbeda
| Perspektif | Inti Pesan |
|---|---|
| Warga Lokal | Jangan ikut terbawa emosi massa; jadilah agen perdamaian di kampung sendiri. |
| Ormas & Tokoh Adat | Menjadi bagian dari solusi, bukan pemicu konflik—dengan aktif membina anggota dan mensosialisasikan damai. |
| Pemerintah & Penegak Hukum | Tingkatkan sinergi dengan lembaga masyarakat seperti Bamus; pendekatan partisipatif lebih efektif dari represif belaka. |
4. Bamus Betawi: Saat Kerawanan Jadi Ajakan Berjaga
Momen ini bisa menjadi turning point: bukan hanya menangkis provokasi, tetapi memperkuat karakter publik—toleran, dewasa, dan berbudaya Betawi.
Riano menyampaikan bahwa pembinaan ormas adalah langkah preventif; bila hanya fokus pada hukuman setelah kejadian, maka akar permasalahan belum tersentuh.
Penutup: Menjaga Damai di Tengah Gemuruh
Bamus Betawi tidak hanya berbicara soal keamanan, melainkan tentang ketahanan sosial berbasis kebudayaan dan kesadaran kolektif.
Ajakan ini adalah panggilan, bukan hanya untuk warga Betawi, tapi seluruh pihak di Jakarta:
Warga: Jadilah penyaring kebencian, bukan penguatnya.
Tokoh masyarakat: Buktikan bahwa kearifan lokal lebih kuat dari provokasi.
Aparat & Pemerintah: Jadikan dialog dan sinergi sebagai alat keamanan.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan hanya menghindari konflik—tetapi membangun keteladanan sebagai warisan budaya yang patut dipertahankan.






